Patjar Merah: Festival Literasi di Bekas Gudang
- Agnes Larasati

- Nov 7, 2019
- 2 min read
Updated: Sep 4, 2020
Patjar Merah menyulap gudang bekas menjadi lokasi pameran dan pasar buku yang murah dan terjangkau.

Patjar Merah diselenggarakan pada tanggal 2 hingga 10 Maret 2019 di Yogyakarta. Patjar Merah merupakan festival kecil literasi dan pasar buku yang menghadirkan buku-buku dari para penerbit Indonesia (mayor dan indie) serta workshop dan kegiatan literasi.
Tokoh di balik layar yang berperan besar dalam terselenggaranya Patjar Merah adalah Windy Ariestanty dan Irwan Bajang. Keduanya adalah pecinta literasi yang berkeinginan mendekatkan literasi ke masyarakat. Salah satu caranya dengan mempermudah akses terhadap buku bacaan. Oleh karena itu, Patjar Merah menghadirkan 1,5 juta eksemplar buku yang terdiri dari 8.300 judul dengan diskon 30-80%.
Model pameran buku tanpa sekat mendukung pembicara dan pengunjung untuk saling merekomendasikan buku dan berdiskusi satu sama lain. Irwan dan Windy berpendapat bahwa literasi pada dasarnya setara, adil dan gembira. Patjar Merah merupakan upaya mereka untuk mendirikan ekosistem literasi yang baik.
Nama ‘Patjar Merah’ memiliki makna tersendiri. Diambil dari buku yang berjudul Patjar Merah Indonesia di tahun 1930-an. Di dalam buku tersebut terdapat tokoh yang bernama Patjar Merah. Dia adalah seorang yang cerdik, pintar, suka membaca dan salah satu pejuang kemerdakaan Indonesia, Tan Malaka. Spirit dari tokoh itulah yang diharapkan hadir dan menjadi ikon pergerakan literasi yang diusung melalui Patjar Merah. Diharapkan Festival Patjar Merah tidak akan pernah padam dan akan terus hadir.
Windy dan Irwan memutuskan untuk mengadakan Patjar Merah di Yogyakarta karena mereka sependapat bahwa Yogyakarta merupakan ‘ibu kota’ buku, nadi literasi. Irwan menambahkan sudah lama tidak diadakan pameran buku di Yogyakarta, maka Patjar Merah hadir untuk mengisi kekosongan itu. Kendala yang dihadapi penyelenggara adalah pemilihan gedung tempat pelaksanaan Patjar Merah.
“Saya mengontak Irwan tentang ide mengadakan festival literasi sejak Mei 2018. Oktober 2018, saya dan Irwan survei lokasi tapi kami kesulitan menentukan tempat yang tepat. Lalu, salah satu kenalan saya menawarkan meminjamkan gedung miliknyauntuk acara ini. Kebetulan gedung itu dulunya gudang,”tutur Windy, inisiator Patjar Merah, Rabu (06/03/2019).
Windy menambahkan ketika memberitahu bahwa Patjar Merah akan diadakan di bekas gudang yang terletak di Jl Gedong Kuning Nomor 118, banyak yang pesimis karena lokasinya yang jauh dari pusat kota. Meski begitu, Windy dan Irwan tetap optimis dengan pemilihan tempat tersebut.
Fakta menunjukkan bahwa Patjar Merah berhasil menarik perhatian para penggemar buku. Panitia mendata hingga 6 Maret 2019, festival ini telah dikunjungi 9.000 orang begitupun dengan pengikut akun media sosial @patjarmerah di Instagram mencapai 12 ribu orang. Terdapat 104 relawan yang turut membantu terselenggaranya acara ini.

Comments