top of page

Ulasan Buku Bukan Pasar Malam Karya Pramoedya Ananta Toer

  • Writer: Agnes Larasati
    Agnes Larasati
  • Apr 8, 2019
  • 4 min read

Updated: Feb 8, 2025

Oleh: Agnes Retno Larasati


Buku Bukan Pasar Malam diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Balai Pustaka pada tahun 1951. Buku ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan asal Indonesia yang pernah mendapat nominasi Nobel bidang sastra[1]. Bukan Pasar Malam ditulis saat beliau dipenjara di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer dijatuhi pidana oleh Departemen Penerangan pada Orde Baru karena karyanya dianggap berbau komunis. Beliau sempat dipenjara selama 15 tahun, dan menjadi tahanan rumah, hingga akhirnya saat Reformasi beliau dibebaskan. Bukan Pasar Malam telah mendapatkan berbagai penghargaan baik di kancah nasional maupun internasional.[2]


Bukan Pasar Malam merupakan karya fiksi, sebuah roman revolusi. Buku ini sarat akan sindiran terhadap para penguasa yang tidak setia pada ide awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Diceritakan dari sudut pandang orang pertama yaitu ‘Aku’. Tokoh ‘Aku’ ini adalah seorang anak yang ayahnya sakit keras, dan sudah di pintu kematian. Sebagai seorang anak yang bekerja di luar kota, ia pun kembali pulang Blora, Jawa Tengah, ke kota kelahirannya untuk mengucapkan selamat tinggal pada sang ayah. Dari mulai perjalanan hingga akhirnya sampai di Blora, benak tokoh ‘Aku’ dipenuhi oleh berbagai kenangan. Buku ini menceritakan tentang kehilangan, kehilangan tokoh ‘ayah’ yang dulunya begitu hebat, kini semangat masa mudanya pudar. Ayah terkena penyakit TBC, batuk-batuk darah yang menambah miris jalan cerita. Ayahnya adalah pejuang Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang terlupakan, terkikis oleh waktu. Beliau menolak untuk menjadi bagian dari pemerintah yang sibuk menumpuk kekayaan dan menambah kekuasannya. Hal ini berimbas pada hidup ayah yang berakhir sedih, beliau tidak dapat masuk ke sanitorium untuk mendapat perawatan kesehatan yang lebih baik. Sanotarioum adalah ‘hak’ pejabat, untuk masuk ke situ sangat sulit.



Gambar 1. Buku Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer (Sumber: Larasati, 2025)
Gambar 1. Buku Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer (Sumber: Larasati, 2025)

Buku ini bertema relasi antara ayah-anak, relasi dalam sebuah keluarga yang tinggal di rumah kecil pinggir desa. Bagaimana saat akhir hayatnya relasi ayah dan anaknya menjadi penuh nostalgia dan kesedihan. Nostalgia akan masa di mana sang ayah masih kuat, muda, dan berani. Kesedihan saat melihat keadaan sang ayah yang lemah, tua, dan tampak gelisah menunggu ajal. Pramoedya Ananta Toer mampu menjadikan pembaca roman ini sebagai tokoh yang turut hadir dan berperan dalam plot. Latar belakang Pramoedya Ananta Toer yang lahir dan besar di Blora, Jawa Tengah sangat mendukung penulisan setting novel. Meski ini novel fiksi, Pramoedya mampu menghidupkan novel sehingga terasa nyata. Beliau menceritakan dengan apa adanya, tiada kesan dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi. Pramoedya memang sudah berpengalaman dalam menulis buku bertema roman revolusi, karyanya yang lain Trilogi Bumi Manusia, Larasati sudah membuktikan kelihaiannya dalam bercerita tentang revolusi dari sudut pandang rakyat biasa.


Saya adalah pembaca setia novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Jika dibandingkan dengan karyanya yang lain, Bukan Pasar Malam memiliki jalan cerita yang cukup menyedihkan. Saya kira plot cerita dalam novel ini akan lebih ‘bahagia’ karena judulnya Bukan Pasar Malam. Saya salah besar, novel ini seakan menjadi saksi bisu proses seorang anak kehilangan ayahnya. Kehilangan secara fisik, bukan secara rohani.


Mengapa begitu? Karena ayahnya dikuburkan, namun kenangan-kenangan dalam benak si anak telah terekam sampai akhirnya ia juga akan meninggal. Bukankah kita hanya manusia yang menumpang hidup di tanah air Indonesia ini? Mestinya hidup itu seperti pasar malam, datang bersama-sama dan pulang bersama-sama. Mengapa kita harus lahir dan mati sendirian? Mengapa tidak bersama-sama saja?


Pertanyaan-pertanyan seperti itulah yang muncul saat kita membaca Bukan Pasar Malam.


Bukan Pasar Malam dituliskan dalam EYD lama. Hal ini tidak menjadi penghalang pembaca untuk memahami jalur cerita novel dengan nyaman. Sebagai generasi muda, apa yang dituliskan Pramoedya dalam buku ini masih sangat relevan dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat seorang anak sudah dewasa dan bekerja, saat ia nampak sudah mampan dan tidak bergantung pada orang tuanya, ia akan tetap sedih saat sang ayah atau ibu sakit keras dan meninggal. Bagaimana proses seorang anak menerima kematian orang tuanya menjadi inti cerita novel ini. Menurut saya, Bukan Pasar Malam adalah salah satu karya kesusastraan modern Indonesia yang penting karena novel ini memberikan sudut pandang baru dalam hingar bingar Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Sisi lain dari kehidupan masyarakat pada jaman itu, sisi yang lebih personal.


Salah satu ciri khas Pramodya adalah karakterisasi tokoh-tokoh novel yang sangat menarik. Pramoedya menampilkan tokoh Tionghoa, Jawa, dan Belanda. Pramoedya juga memberikan karakterisasi yang lebih personal dengan kadang menyelipkan ideologi tokoh itu, contohnya dalam buku, Pramoedya menuliskan bahawa tokoh ‘ayah’ adalah seorang nasionalis. Bahkan sebelum akhir hayatnya, ia meneriakkan ikrar nasionalisnya, ia juga mengamanatkan pada anak-anaknya agar tidak menyerah pada kenikmatan duniawi, agar mereka tidak korupsi dan tetap jujur dalam mengarungi kehidupan.


Novel karya Pramoedya Ananta Toer ini sarat akan nilai moral, meski secara implisit. Kita disuguhkan beberapa tokoh, tokoh ‘ayah’ yang sederhana namun tidak terkenal dan kurang dihormati karena ia miskin. Di sisi lain, ada tokoh dokter dan pejabat yang berkuasa di desa itu. Keduanya memiliki karakteristik yang bertolak belakang, kita dapat menyimpulkan sendiri mana itu yang baik dan buruk. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu alasan Bukan Pasar Malamsempat dicekal, padahal menurut saya pribadi, buku ini sama sekali tidak berunsur komunis, malah berunsur nasionalis.


Salah satu kelemahan dari novel yang tampak tanpa cela ini adalah terlalu bertele-tele. Pramoedya Ananta Toer tidak secara langsung menampilkan pandangan tokoh utama, melainkan hanya berupa isyarat halus yang kurang jelas orientasinya. Kita sebagai pembaca kadang dibuat bingung oleh pemikiran tokoh utama yang berjalan cepat, secepat jalan cerita. Sebagai pembaca, kita dapat mencoba untuk menginterpretasikan isi novel sesuai imajinasi masing-masing. Tapi, menurut saya, akan lebih baik apabila Pramoedya dapat memberikan jalan pikir tokoh utama yang lebih terarah, agar sesuai dengan jalan cerita novel. Menurut saya, ini bukan kesalahan fatal karena kita dapat menebak dan berimajinasi sendiri tentang jalan pikiran tokoh utama.


Referensi

[1]Perlez, Jane. 2006. Pramoedya Ananta Toer, 81, Indonesian Novelist, Dies. Diakses dari http://www.nytimes.com/2006/05/01/books/01prem.html pada 5 November 2016

[2]Pramoedya Ananta Toer, 2004. Bukan Pasar Malam cetakan kesepeluh, Yogyakarta: Balai Pustaka, hlm 3

Comments


Follow

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

©2019 by Jurnal Daring Laras. Proudly created with Wix.com

bottom of page