top of page

Pesona Parachuap Khiri Khan

  • Writer: Agnes Larasati
    Agnes Larasati
  • Apr 28, 2019
  • 5 min read

Updated: Sep 4, 2020

“Welcome to Parachuap Khiri Khan (ประจวบคีรีขันธ์)”, tulisan besar terpampang di kanan jalan menyambut kami. Cuaca cerah menghiasi perjalanan darat kami dari Nonthaburi, di bulan Desember. Minibus yang kami tumpangi berangkat pukul 9 pagi, setelah 4 jam perjalanan kami tiba di kota tujuan. Semua peserta program yang berjumlah 48 orang itu berasal dari berbagai negara. Ada yang dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Kamboja, Sri Lanka, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Inggris. Kami dibagi menjadi 6 kelompok, tiap kelompok naik satu minibus sehingga total terdapat 6 minibus. Ajahn (dalam Bahasa Thailand artinya guru) Joo bercerita tentang Parachuap, kota asalnya. Parachuap dikenal sebagai kota pantai karena pantainya yang indah, dan terawat, memasuki Bulan Desember semakin banyak turis yang datang apalagi bertepatan musim dingin.

“Sekarang sudah musim dingin. Jadi, cuacanya bagus perjalanan akan mengasyikkan.”

Musim dingin di Thailand dimulai pada Bulan Desember. Musim dingin khas dengan cuaca cerah dan hangat. Ajahn Joo menjelaskan bahwa musim dingin adalah saat terbaik bagi kami untuk berwisata alam.


Parachuap Khiri Khan terletak 280 kilometer selatan Bangkok dan 80 kilometer dari resort tepi laut kerajaan, Hua Hin. Parachuap Khiri Khan terletak terjepit di antara Myanmar di barat dan Teluk Thailand di timur, dengan hanya 11 kilometer yang memisahkan mereka di satu titik. Parachuap Khirikhan menawarkan panorama yang indah, dengan puncak-puncak berbatu yang seolah melonjak keluar dari laut.


Pukul 3 siang waktu setempat, kami tiba di Parachuap. Ditemani matahari yang bersinar terik, kami melongok keluar jendela minibus. Sinar matahari menembus kaca jendela minibus. Di kanan kami, terlihat Pantai Pak Nam Pran dengan pasir putih dan ombak yang terus-menerus menerjang bibir pantai. Nun jauh di ujung pantai terbentang laut yang kebiruan. Minibus melaju dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam. Pemandangan pantai di luar jendela semakin indah saja. Jalanan yang beraspal membuat minibus berjalan dengan stabil sehingga kami dapat dengan mudah menikmati pemandangan alam.


Dua jam perjalanan darat telah kami lalui, kami sempat singgah di King Rama II Memorial Park. Di sini kami melihat rumah tradisional Thailand, dan diajari memasak beberapa makanan tradisional Thailand seperti Bua Loy, dan daging ayam berbalut mie yang digoreng. Kami juga diajari membuat rangkaian bunga dari daun pandan. Kami singgah di sini sekitar 2 jam.


Setelah makan siang, barulah kami meninggalkan King Rama II Memorial Park. Sekitar jam 1 siang kami melanjutkan perjalanan ke Parachuap Khiri Khan. Perjalanan dua jam terasa singkat karena kami mengobrol satu sama lain. Pemandangan alam seperti bukit, dan perumahan warga juga membuat kami semakin nyaman duduk di minibus. Pengemudi minibus tidak tergesa-gesa sehingga kami nyaman dalam perjalanan darat yang cukup panjang ini.


Tak terasa dua jam telah terlewati, dan kami tiba di Parachuap Khiri Khan. Sore hari itu, menimbang cuaca yang cerah dan saran Ajahn Joo untuk berwisata alam. Kami memutuskan untuk sore nanti melihat matahari terbenam di Pantai Pak Nam, apalagi tempat kami menginap berseberangan dengan pantai sehingga kami dapat berjalan kaki ke sana.


Sesampainya di hotel, kami segera check-in dan diberi waktu untuk bersantai. Kami pun pergi ke pantai. Pantai Pak Nam terhampar di pinggir Jalan Pak Nam sepanjang 7 km dihiasi pasir putih dan air laut yang jernih. Bagi yang berminat, pantai ini menyenangkan untuk bermain air. Terlihat guratan merah di ufuk barat. Langit sore berangsur-angsur berubah menjadi berwarna pink. Matahari mulai terbenam. Matahari seakan ditelan oleh laut nun jauh di sana. Tak terasa sudah gelap. Menjelang malam, barulah kami kembali ke hotel. Kami pulang dan beristirahat setelah seharian berwisata dan menempuh perjalanan antarkota.

Gambar 1. Pemandangan sore hari menjelang matahari terbenam di Pantai Pak Nam (dok. penulis)

Keesokan siangnya, sekitar pukul 1 siang, kami singgah di Sirinart Rajini Ecosystem Learning Center untuk menikmati keindahan hutan bakau. Uniknya, hutan yang ada di Sirinart Rajini merupakan hutan bakau yang ditanam oleh manusia. Pemandu wisata dari Sirinart Rajini, P’Kai menjelaskan tentang sejarah berdirinya tempat ini. Dulu, hutan di muara Pranburi ini mengalami kerusakan lingkungan karena budidaya udang yang mencemari tanah. Masalah ini juga terjadi di hutan-hutan bakau lain yang ada di Thaliand. “Pada tahun 1996, ketika Raja Rama IX dan Ratu melakukan kunjungan ke Taman Hutan Pranburi, mereka sangat khawatir karena hutan bakau di muara Pranburi mengalami kerusakan. Raja dan Ratu meminta Departemen Kehutanan Kerajaan untuk merawat kembali hutan bakau di Sirinart Rajini,” dia mengimbuhkan. Departemen Kehutanan Kerajan pun mencabut izin menggunakan area ini untuk lading udang. Satu tahun kemudian, tahun 1996, hutan bakau mulai dikonservasi secara menyeluruh dan dirawat hingga saat ini. Ketika kami mengunjungi Sirinart Rajini pada 21 Desember 2018, 22 tahun setelah mulai direhabilitasi, hutan bakau tumbuh subur dan sekarang menjadi habitat bermacam fauna.

Gambar 2. Menyusuri hutan bakau di Sirinart Rinjani (dok. penulis).


Ketika menelusuri Sirinart Rinjani ini, kami sempat melihat pemandangan hutan bakau dari atas. Kami menaiki tangga ke puncak menara observasi untuk mendapatkan pandangan menyeluruh dari hutan bakau yang dipulihkan ini. Sepanjang mata memandang warna hijau hutan bakau dan bukit yang ada nun jauh di sana.


Ketika di atas Menara observasi, P’Kai menjelaskan bahwa dari tempat ini kami bisa melihat perbatasan negara. “40 km dari sini kita bisa melihat Sangkhon Pass, perbatasan Thailand dengan Birma,” tuturnya. Sangkhon Pass memiliki sejarah penting ketika perang antara Thailand (dulu Ayutthaya) dengan Birma. Pada saat itu, Singkhon Pass menjadi tempat pertahanan prajurit Thailand.


Satu lagi hal unik dari Sirinart Rinjani Ecosystem Learning Center adalah biaya masuk gratis, dan kami mendapatkan air mineral gratis (tiap orang mendapat satu botol). Selain menikmati pemandangan hutan bakau yang asri, kami melihat kehidupan hewan yang berhabitat di sini. Ada kepiting, udang, ikan, dan burung. Hewan menarik yang ada di sini adalah collared kingfisher, spesies kingfisher yang merupakan burung paling beragam warnanya dari semua jenis burung yang hidup di hutan bakau ini. Tak terasa 3 jam sudah kami habiskan di sini.


Menjelang sore, kami meninggalkan Sirinart Rinjani. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, kami melanjutkan perjalanan ke Fishing Village Wat yang terletak di bagian selatan Parachuap, tepatnya Ao Noi. Dengan tiga teluk Ao Noi, Ao Parachuap, dan Ao Manao. Taman Som Roi Yot (artinya 300 buit) dan pengunungan Burma di sebelah barat, Parachuap Khirikhan mendapat julukan “Kota Tempat Pegunungan Bertemu”. Bahkan, setiap nama di wilayah tersebut berasal dari legenda Thailand yang terkenal.


Gambar 4. Mengarungi sungai di Fishing Village Wat (dok. Penulis)

Ao Noi, lokasi Fishing Village Wat juga memiliki legenda tersendiri. Pendayuh perahu sekaligus nelayan, P’Jahn, yang mendayung perahu kami bercerita tentang asal nama Ao Noi. Konon, hiduplah keluarga yang terdiri dari ayah bernama Tamonglai, ibu bernama Rampueng, dan anak perempuan mereka Yomdoy yang kecantikannya tersohor. Dua pemuda mendekati Yomdoy: seorang penjanga toko Cina dan putra gubernur. Yang pertama meminta tangan wanita muda itu dari ayahnya, yang lain meminta dari ibunya. Hingga hari pernikahan, suami istri itu tidak berdiskusi tentang calon yang mereka setujui untuk menjadi menantunya. Ketika kedua pelamar tiba di upacara pernikahan, Tamonglai dan Rampueng mulai berkelahi, topi dilempar (Khao Lommuak), begitu juga sumpit (Khao Takiab – Hua Hin), dan potongan kayu. Barang yang dilemparkan ini membuat lubang di antara pulau-pulau (Koh Talu - sebuah pulau lepas Ban Saphan). Rampueng sekarat dan meninggal di Ban Ssaphan (Ao Mae Rampueng). Suaminya menjadi gila karena kesedihan, ia meraih putrinya sendiri lalu merobeknya menjadi dua. Kegilaan akibat perbuatannya sendiri membuat sang ayah, Tamonglai, bunuh diri antara teluk Ao Noi dan Prachuap (Khao Tamonglai).


Sesampainya di Fishing Village Wat, kami turun dari bus dan berhamburan ke pantai. Kami akan menaiki perahu dan mengelilingi sungai. Kami mengarungi sungai dengan bernyanyi, sambil melihat kanan-kiri terdapat bukit. Langit sore yang mulai berubah warna menjadi oranye membuat kami ingin memperpanjang momen ini. Ketika melewati salah satu bukit, P’Jahn menuturkan bahwa di atas bukit tersebut terdapat kuil yang bersejarah karena dibangun pada masa perang dunia kedua.


Ketika mengarungi sungai, kami melihat sampah plastik bertebaran di permukaan air. Kami hanya terdiam melihatnya. Ternyata masalah sampah plastik sampai ke sini. Thailand memang memiliki masalah terkait pengolahan sampah. Harga plastik yang murah membuat siapa pun menggunakannya. Tetap saja kami prihatin melihat kondisi ini.


Fishing Village Wat adalah tempat yang indah, sayangnya masih jarang turis asing yang datang ke tempat ini. Padahal tempat ini adalah destinasi wisata populer di kalangan warga negara Thailand selama masa liburan. Belum jelas benar mengapa tempat ini tidak menjadi destinsai wisata utama di Parachuap padahal dari segi pemandangan, aksesibilitas, Fishing Village Wat cukup menarik. Pengalaman berjalan-jalan selama tiga hari di Parachuap Khiri Khan sungguh berkesan.

Comments


Follow

  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

©2019 by Jurnal Daring Laras. Proudly created with Wix.com

bottom of page