Dongengku
- Agnes Larasati

- Sep 13, 2020
- 2 min read
Ia seperti pangeran dalam dongeng—jenaka tapi sangat menawan. Tinggi dan tampan, ia mampu mencuri hati gadis remaja yang tak waspada.

Pertemuan pertama kami sempurna, dan sejak saat itu, hubungan kami persis kisah roman picisan di novel teenlit. Pada hari tertentu ia menjemputku ke sekolah pagi-pagi, pukul 06.15 ia sudah siap dengan motornya menunggu di depan gerbang rumahku. Tak masalah baginya berangkat sekolah terlalu pagi, sekolahnya baru masuk pukul 07.00 sedangkan bel sekolahku sudah berbunyi pukul 06.40. Di akhir pekan kami pergi ke bioskop untuk menonton film. Tanpa pernah absen, kami berbicara di telepon setiap malam sampai tertidur. Setelah beberapa bulan menjalin hubungan aku hanya punya waktu untuk dia. Tapi saat itu, aku sangat menyukainya. Aku bahagia berada bersamanya setiap detik, karena aku, sudah pasti sedang jatuh cinta.
Pada suatu hari di bulan Desember yang lebih mendung dari biasanya, dia memutuskan hubungan kami. Ia berkata bahwa pagi itu ia bangun dan sadar bahwa ia tak mencintaiku lagi. Kamu pernah terbunuh kata-kata? Sunyi. Lalu senyap. Terbunuh atau dibunuh kesedihan. Aku diam, kukatakan, “Tak apa, kita masih teman kan?” Kupaksakan kedua sudut bibirku untuk tersenyum, walaupun sulit. Aku tidak boleh menangis. Seluruh partikel syaraf dan desir darah bergerak cepat dalam tubuhku. Seperti ingin meledak menjadi tangisan hebat.
Tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku berlari ke sebuah tempat yang kukenal, kosan sahabatku. Aku berdiri di depan pintu, dan sahabatku tanpa sepatah katapun langsung mendekat untuk memelukku. Dalam waktu dua jam, tiga sahabatku lainnya sudah duduk melingkar di sebelahku.
“Ras, kamu nggak papa?” tanya sahabatku, kala melihatku menangis tersedu-sedu. Aku hanya mengangguk. Entah ide siapa, kami masak indomie dan dengan menahan tangis, aku lebih memilih makan indomie. Dalam hitungan menit, satu porsi mie sudah bersih tanpa tersisa.
Aku bercerita semalam suntuk, tak bisa mencapai kesimpulan mengapa aku dicampakkan dan karena itu kami meneruskan dengan sepuasnya menghujat si Pangeran Impian sampai yang tersisa hanyalah sosok makhluk tak berdaya tarik. Berkumpul dan bercerita bersama sahabat-sahabatku membuatku lebih tenang. Sudah lama kami tak kumpul seperti ini.
Pelan-pelan aku mulai kembali ke rutinitasku, ke duniaku sebelum aku pacaran dan patah hati. Awalnya aku masih teringat kenangan dan tempat-tempat yang sering kami kunjungi tapi entah kenapa semakin lama kenangan itu semakin menjauh dan aku terbiasa sendiri lagi. Aku memilih mengisi waktuku dengan berorganisasi, ikut lomba dan mengerjakan tugas bahkan bekerja sambilan. Dunia tidak berakhir, keramaian di luar sana memanggilku untuk terus mengayuh pedal kehidupan.
Kamu tahu? Aku kangen kebersamaan dengan sahabat-sahabatku. “Kami merindukanmu,” ucap salah satu sahabatku ketika kami makan es krim bersama di Tempo Gelato. Aku tidak adil, aku melupakan mereka ketika aku di bawah sihir si Pangeran Impian. Aku mengabaikan mereka karena terbuai cinta. Sejak itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk menghargai sahabat-sahabatku.
Selang beberapa bulan, aku duduk sendirian di bawah pohon rindang di Sansiro. Sejauh mata memandang, dedaunan yang berguguran menghias sekelilingku. Ketika cinta sudah membuka topengnya dan semua sudah terjadi, aku menyadari bahwa ternyata kisah cintaku tidak seindah dongeng, aku tidak mempunyai pacar seperti pangeran impian. Yang kumiliki adalah sahabat-sahabat seperti dalam dongeng. Aku harus patah hati dulu sebelum menyadari betapa istimewanya sahabatku. Hanya sahabat yang mengerti bagaimana tulus untuk berbagi, seia sekata dan selalu berbagi kala suka dan duka. Menyembuhkan hati yang terluka bersama. P.S.: terinspirasi Untuk Hati yang Terluka oleh Isyana Sarasvati.



Comments