Sekedar Opini
- Agnes Larasati

- Jan 5, 2019
- 2 min read
Suatu sore, A: "Kita mau ke mana nih?" B: "Ayo, Sakapatat" A: "Liquid po?" B: "Kita duduk aja dengerin musik gak minum, kan gak dosa" (dalam imajinasiku ada musik mencekam diputar di sini) A, B dan teman-teman mereka: "Hahahahahaha" Sebenarnya ini tampak seperti percakapan biasa antarteman. Masalahnya, aku dan temanku sedang duduk di sebelah mereka, yang notabene temanku juga. Aku dan temanku ini peminum dan kami berdua sudah pernah mengunjungi beberapa tempat minum di Yogyakarta, ya untuk minum. Kedua tempat yang mereka sebutkan sebagai tempat penuh dosa tadi sudah pernah kami kunjungi. Ketika mendengar percakapan itu kami berdua sontak tersenyum miris. Sebagai peminum, kami sudah akrab dengan diskriminasi. Dengan stereotip, dan stigma negatif bahwa kami buang-buang uang, penuh dosa, pemabuk, akan masuk neraka, dan lain sebagainya. Pandangan negatif ini yang membuat kami memutuskan untuk tidak menunjukkan bahwa kami sebenarnya peminum. Sebenarnya kami ingin mendobrak konstruksi sosial yang ada di masyarakat tapi ketika temanku mencoba merokok di kampus, dia dihujat massal. Ya sudahlah, demi kelancaran perkuliahan dan pergaulan kami tidak menunjukkan 'kebejatan' kami. Kadang kami bingung sendiri kenapa orang begitu ikut campur dengan kehidupan orang lain. Minum dan merokok itu keputusan pribadi, kok kamu merasa berhak menghakimi. Aneh kan? Representasi peminum dan perokok di media mendukung konstruksi sosial ini untuk tumbuh subur. Begitu juga ajaran agama bahwa kedua tindakan tersebut penuh dosa. Ayo, teman-teman kita mengedukasi diri kita sendiri! Pilihan hidup orang beda-beda begitu pula pandangan moral dan perilaku. Sampai kapan kalian mengotak-ngotakkan dunia, mari lihat dunia dari sudut pandang lain. Mungkin kalian akan lebih toleran pada perbedaan yang ada. Sekedar informasi, temanku si peminum sekaligus perokok ini orang baik. Begitu pun ketika aku 'ketahuan' minum, wah ternyata aku jadi bahan pergunjingan teman-temanku. Kalimat yang dilontarkan tidak jauh-jauh dari, "Eh tau gak sih masa dia minum!" Tapi, kubahagia memberi topik bagi obrolan kalian. Mungkin karena terlalu sering didiskriminasi dan dipandang negatif, aku dan temanku sudah biasa saja apabila ada yang datang untuk sekedar menghujat kami. Kami paham pilihan hidup kami ini mungkin sulit diterima atau pun dihargai orang lain.
Jangan dibawa terlalu serius ya, ini tulisan dadakan.




Comments